Terduga bahwa aku benar-benar mencintaimu. tak terkecuali saat hari pertama aku melihatmu dilapangan sedang bermain bola basket bersama teman-temanmu. saat itu juga detik jam terasa terhenti. wajahmu sederhana saja, tapi mengapa aku mempunyai perasaan yang sangat amat dalam padamu?. merasa yakin bahwa kau memang ditakdirkan hanyalah untukku. setiap saat waktu bebas di sekolah, aku selalu menyempatkan ke lapangan hanya untuk melihatmu. tanpa sepengetahuanmu, seseorang dari kejauhan yang sedang memperhatikan gerak gerik yang kau buat dari ujung kepalamu sampai ujung kakimu yaitu;aku. iya,aku yang memperhatikan semua hal tentangmu. rasanya mata ini tak ingin terlepas pandangan darimu. tetapi sayang, bel yang memutuskan aliran pandanganku. kau berlari ke ujung bawah kiri, tempat kelasmu berada. sedangkan aku berjalan dengan wajahmu yang sedang berada di pikiranku, menuju ujung bawah kanan, kelasku berada.
Pernah ada kesempatan kita berpapasan dikantin, matamu terasa sangat dekat pada mataku, sehingga aku hampir saja tak terkendali. akhirnya kau yang mendahului perkenalannya. aku mulai dekat denganmu. sampai suatu hari aku ingin menemuimu dikantin, aku menghentikan langkahku tepat didepan pintu kantin. tubuhku menggigil berdiri ditempat, karena mataku tertuju padamu dan seorang wanita yang sedang kau suapkan makanan. hatiku remuk,hancur.. untuk apa selama ini kau dekati aku, bila pada akhirnya kau membiarkanku seperti sampah yang tak berguna pada kehidupanmu?
Kukira kau menyukaiku, tapi hanya sekadar teman dan tidak lebih. air mataku mulai berjatuhan ketika ku berbalik badan dan berlari ke toilet. aku menepuk-nepuk dindingnya, aku kira semua akan berjalan dengan lancar, tapi justru aku salah dengan perasaannya padaku, dia tak pernah suka padaku!
Kutatap diriku lekat-lekat pada cermin,"bodohnya diriku! mengira bahwa dia tertarik padaku, jelas-jelas tak mungkin. tak mungkin dia tertarik pada sampah sepertiku!"
Hari demi hari mulai kembali, dia menyapaku, terpaksa aku acuhkan. aku tak ingin wanita yang sedang bersamanya salah tingkah. dan sekarang aku mulai (harus) terbiasa menjalani hari-hariku kembali tanpa hadirnya dirimu, meskipun berat rasanya, seperti ada yang hilang. tetapi kita aku mulai ingin melupakanmu, rasanya aku mulai ingin lebih menyayangimu kembali. tetapi di sisi lain aku puas, karena sudah mengetahui semua hal sampah ini dari awal, sebelum aku terlanjur sayang amat sangat padanya.
Waktu terus berputar dan sekarang aku sudah tak punya hubungan lagi dengannya, hubungan pertemanan pun rasanya tidak hadir kembali. semua pesan singkatmu yang hanya rekayasimu belaka sudah kuhapus. syukurlah, sekarang aku sudah bisa mengendalikan perasaanku. tak akan ada lagi kata 'kita' diantara aku dan kamu. biarlah semua ini menjadi pelajaran buat diriku.
" jangan pernah terlalu berharap pada seseorang yang belum kita tahu dalamnya seperti (apa). "
Pernah ada kesempatan kita berpapasan dikantin, matamu terasa sangat dekat pada mataku, sehingga aku hampir saja tak terkendali. akhirnya kau yang mendahului perkenalannya. aku mulai dekat denganmu. sampai suatu hari aku ingin menemuimu dikantin, aku menghentikan langkahku tepat didepan pintu kantin. tubuhku menggigil berdiri ditempat, karena mataku tertuju padamu dan seorang wanita yang sedang kau suapkan makanan. hatiku remuk,hancur.. untuk apa selama ini kau dekati aku, bila pada akhirnya kau membiarkanku seperti sampah yang tak berguna pada kehidupanmu?
Kukira kau menyukaiku, tapi hanya sekadar teman dan tidak lebih. air mataku mulai berjatuhan ketika ku berbalik badan dan berlari ke toilet. aku menepuk-nepuk dindingnya, aku kira semua akan berjalan dengan lancar, tapi justru aku salah dengan perasaannya padaku, dia tak pernah suka padaku!
Kutatap diriku lekat-lekat pada cermin,"bodohnya diriku! mengira bahwa dia tertarik padaku, jelas-jelas tak mungkin. tak mungkin dia tertarik pada sampah sepertiku!"
Hari demi hari mulai kembali, dia menyapaku, terpaksa aku acuhkan. aku tak ingin wanita yang sedang bersamanya salah tingkah. dan sekarang aku mulai (harus) terbiasa menjalani hari-hariku kembali tanpa hadirnya dirimu, meskipun berat rasanya, seperti ada yang hilang. tetapi kita aku mulai ingin melupakanmu, rasanya aku mulai ingin lebih menyayangimu kembali. tetapi di sisi lain aku puas, karena sudah mengetahui semua hal sampah ini dari awal, sebelum aku terlanjur sayang amat sangat padanya.
Waktu terus berputar dan sekarang aku sudah tak punya hubungan lagi dengannya, hubungan pertemanan pun rasanya tidak hadir kembali. semua pesan singkatmu yang hanya rekayasimu belaka sudah kuhapus. syukurlah, sekarang aku sudah bisa mengendalikan perasaanku. tak akan ada lagi kata 'kita' diantara aku dan kamu. biarlah semua ini menjadi pelajaran buat diriku.
" jangan pernah terlalu berharap pada seseorang yang belum kita tahu dalamnya seperti (apa). "
